News Lolak– Harapan besar petani di Kabupaten Bolaang Mongondow untuk segera merasakan manfaat penuh dari Bendungan Lolak masih harus tertunda. Meski bendungan megah itu sudah berdiri, pembangunan jaringan irigasi yang menjadi salah satu fungsi utama bendungan justru belum bisa direalisasikan.
Kepala Balai Wilayah Sungai (BWS) Sulawesi I, Sugeng Harianto, menegaskan bahwa jaringan irigasi Bendungan Lolak memiliki peran krusial. Selain sebagai penyuplai air pertanian, irigasi tersebut akan menjadi penopang swasembada pangan di daerah.
“Saat kita lagi semangat-semangatnya mewujudkan swasembada beras, harusnya ini menjadi yang utama. Bendungan Lolak dibangun bukan hanya untuk pengendali banjir dan pembangkit listrik, tapi juga untuk irigasi dan wisata,” ujar Sugeng.
Irigasi Lolak Bawah Sudah Berfungsi
Saat ini, satu bagian jaringan irigasi sudah rampung dan bisa dimanfaatkan, yaitu Jaringan Irigasi Lolak Bawah dengan cakupan 900 hektare lahan pertanian. Keberadaan jaringan ini disambut positif oleh para petani, meski sebenarnya masih jauh dari target luas lahan yang seharusnya bisa dialiri air bendungan.
Irigasi Lolak Atas Tersendat 600 Hektare
Pekerjaan besar yang tersisa adalah Jaringan Irigasi Lolak Atas dengan potensi pengairan 1.300 hektare lahan. Namun, proyek ini terhambat karena sekitar 600 hektare dari area yang direncanakan justru telah ditetapkan sebagai bagian dari Kawasan Industri Mongondow (Kimong).
Sugeng mengungkapkan bahwa izin PKKPR (Persetujuan Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang) untuk Kimong baru terbit ketika bendungan dalam proses pembangunan. Hal ini memunculkan tumpang tindih tata ruang yang kini menjadi penghambat utama kelanjutan proyek irigasi.
“Sayang sekali, sudah ada bendung di sana tapi jaringannya yang belum ada. Kalau irigasi tidak dibangun, asas manfaat bendungan jelas tidak tercapai sepenuhnya,” tegas Sugeng.

Baca Juga: Freeport Hadapi Tantangan Berat Selamatkan 7 Pekerja Terjebak Tambang
Anggaran Ada, Tapi Tak Bisa Digunakan
Ironisnya, dana untuk pembangunan jaringan irigasi sebenarnya sudah tersedia, bahkan desain teknis pun sudah rampung. Namun, lantaran status tata ruang belum jelas, pemerintah memilih menahan anggaran agar tidak terjadi persoalan hukum di kemudian hari.
“Desain sudah ada, anggarannya tahun kemarin ada. Tapi karena pimpinan melihat masalah ini belum beres, dana tidak bisa dicairkan. Tahun ini malah hilang,” ungkap Sugeng.
Irigasi Premium yang Menjadi Harapan
Jika terealisasi, jaringan irigasi Bendungan Lolak disebut sebagai irigasi premium. Air akan terjamin mengalir sepanjang waktu sehingga petani tidak lagi bergantung sepenuhnya pada musim hujan. Sistem ini diharapkan dapat mendongkrak produktivitas pertanian sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah.
Namun semua harapan itu kembali ke satu persoalan klasik: tata ruang. Sugeng menekankan perlunya pengkajian ulang RTRW (Rencana Tata Ruang Wilayah) oleh pemerintah Kabupaten Bolaang Mongondow agar sinkronisasi fungsi lahan bisa segera dicapai.








