News Lolak– Suasana haru menyelimuti ruang konferensi pers Badan Gizi Nasional (BGN). Wakil Kepala BGN, Nanik S. Deyang, tak kuasa menahan air mata saat menyampaikan permintaan maaf mendalam kepada publik terkait kasus keracunan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menimpa ribuan siswa di berbagai daerah Indonesia.
Dengan suara bergetar, Nanik mengaku bertanggung jawab penuh atas insiden yang belakangan ini menggemparkan masyarakat. Ia menyampaikan permintaan maaf bukan hanya sebagai pejabat, melainkan juga sebagai seorang ibu yang merasa pilu melihat anak-anak sakit akibat program yang seharusnya melindungi dan menyehatkan generasi muda.
“Dari hati saya yang terdalam saya mohon maaf, atas nama BGN dan seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Indonesia. Saya seorang ibu, melihat gambar-gambar di video membuat hati saya sangat sedih,” kata Nanik sembari menitikkan air mata.
“Bukan Sekadar Angka, Tapi Nyawa”
Dalam konferensi pers tersebut, Nanik menegaskan bahwa kasus keracunan MBG bukanlah sekadar persoalan statistik. “Satu nyawa pun, satu anak pun sakit, itu adalah tanggung jawab kami. Itu adalah kesalahan kami sebagai pelaksana, dan kami berjanji akan memperbaikinya secara total,” tegasnya.
Pernyataan ini datang setelah dalam tiga pekan terakhir, kasus keracunan akibat konsumsi makanan dari program MBG kian meningkat. Bahkan, dua daerah—Kabupaten Bandung Barat dan Kabupaten Mamuju—telah menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB).
Ribuan Korban, Data Resmi dan Pemantauan Publik Berbeda
BGN mencatat, hingga 22 September 2025, terdapat 4.711 korban keracunan MBG yang tersebar di seluruh Indonesia. Angka tersebut terbagi dalam tiga wilayah besar:
-
Wilayah I (Sumatra): 1.281 orang
-
Wilayah II (Jawa): 2.606 orang
-
Wilayah III (Kalimantan, Bali, Sulawesi, NTT, Maluku, dan Papua): 824 orang
Namun, data berbeda muncul dari Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) yang mencatat angka korban jauh lebih tinggi, yakni 6.452 orang per 21 September 2025. Dari data JPPI, Jawa Barat menjadi daerah dengan kasus tertinggi sebanyak 2.012 korban, disusul D.I. Yogyakarta (1.047 orang), Jawa Tengah (722 orang), Bengkulu (539 orang), dan Sulawesi Tengah (446 orang).

Baca Juga: Gudang Produksi Gula Merah di Tulungagung Ludes Terbakar Kerugian Capai Rp 70 Juta
Perbedaan data ini menimbulkan perdebatan di kalangan publik, meski kedua sumber sepakat bahwa tren kasus terus meningkat. Bahkan, temuan terbaru pada Jumat (26/9/2025) menunjukkan 103 siswa di Kecamatan Ujungjaya, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, mengalami keracunan setelah menyantap makanan MBG.
Program Makan Bergizi Gratis awalnya diluncurkan dengan harapan besar: memastikan setiap anak sekolah di Indonesia mendapatkan asupan gizi yang layak dan seimbang tanpa terkendala ekonomi. Namun, serangkaian insiden keracunan justru menimbulkan kekecewaan, keresahan orang tua, dan kritik dari kalangan masyarakat sipil.
Beberapa aktivis pendidikan menilai, lemahnya pengawasan mutu di dapur-dapur MBG dan rantai distribusi pangan menjadi faktor utama terjadinya kasus. Sementara itu, organisasi masyarakat meminta evaluasi menyeluruh agar program tidak hanya sekadar berjalan, tetapi juga benar-benar menjamin keselamatan anak-anak.








